Kamis, 12 April 2012

Apa Sih Tugas Seorang Pemimpin???

"Ketika bercermin, saya melihat orang di dalam cermin itu dan mengatakan kepadanya: Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran," kata Ahmadinejad ketika diwawancarai TV Fox (AS). - Sumber Forum Kaskus


terkadang orang itu sudah mulai lupa salah satu fungsi pimpinan. selain mempunya tanggung jawab dalam managerial, seorang pimpinan juga harus siap sebagai "pelayan". Apabila bawahannya mengalami kesulitan, sebagai seorang pemimpin harusnya kita bisa membantu dalam menyelesaikan masalah, walaupun tidak terjun langsung, tetapi seorang pemimpin haruslah mensupport dalam bentuk memberikan solusi - solusi ataupun saran - saran yang efektif guna kemajuan team yang ia pimpin.

Minggu, 01 April 2012

Perbedaan ?? Kenapa??

Semua agama pasti mengajarkan kebaikan. untuk itu jangan cari perbedaannya, tetapi cari kesamaannya, niscaya yang ditemukan adalah CINTA - Hermawan Kertajaya

tiba - tiba aja teringat kembali apa yang pernah dibilang sama Pak Hermawan,  itu beliau utarakan waktu mengisi materi di training Values Based Marketing beberapa waktu yang lalu. disitu beliau menyampaikan, marketing bukan hanya target semata yang kita cari, tapi kita harus bisa dapet nilai tambah dari situ.

nilai tambah (Values) bisa kita peroleh jika bisa melakukan extra miles dalam setiap usaha kita. sebagai contoh yang pernah disebutkan oleh Pak Hermawan, beliau menceritakan kenapa Body shop memiliki Values disetiap produknya? karena pada waktu itu, beliau pernah bertemu langsung dengan owneri dari Body Shop, disana beliau diceritakan bagaimana BS memproduksi produk dan memperoleh bahan bakunya.

Rupanya, BS memperoleh bahan baku dengan mendidik masyarakat sekitar "ladang" bagaimana membuat sesuatu hal yang terlihat biasa saja, menjadi bahan baku untuk tokonya. dari situ pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar "ladang' makin hari makin meningkat. dampak yang terjadi bahwa masyarakat sekitar tidak dijadikan kacung, tetapi dijadikan "petani" untuk bisa mandiri, dari cerita itu akhirnya Pak Hermawan mengaguminya

terus kaitannya sama judul diatas apa? kayanya emang agk ada sih.. hehehe.. tapi beliau menuturkannya pada saat kegiatan itu. tapi uniknya, beliau yang beragam nasrani, tetapi memiliki guru spiritual seorang ulama. Kok bisa ya? nah kalo ini, kayanya bisa sesuai sama judul deh.. hehehehe.. yup, dari situ, beliau diajarkan bahwa antar umat beragama seharusnya saling menghargai dan menghormati. Toh kita juga gak mau diganggu kalo lagi ibadah, atau agama kita dihina sama yang lain.

Nah, untuk itu mulai sekarang kita jangan saling cari perbedaan dari masing - masing agama. Tetapi kita harus saling toleransi biar kita bisa hidup berdampingan dan suasana jadi aman dan nyaman. Semua agama juga pasti mengklaim bahwa "kita lah" yang terbaik. tapi untuk keputusan akhir tetap ada pada diri kita dan bagaimana kita mensikapi pada setiap kondisi.

Kalo kita bisa melihat kesamaan yang ada dan kita bisa salig bertoleransi, pasti yang kita temukan bukan lagi perbedaan, perselisihan, atau apapun itu. tetapi kita bisa menikmati cinta yang ada dan akhirnya kita bisa rukun dan saling menjaga..

PS : Open Discuss ya guys..

Selasa, 20 Maret 2012

Hukuman Untuk Sebuah Proses Atau Seorang Pelaku


Kemarin ada yang nyeletuk “doing the right things or doing the things right” hmmmm.. maksud dari kalimat itu apa ya? “Doing the right things” kalo gak salah artinya lakukan sesuatu hal yang benar. Yang benar tuh yang kaya gimana ya? Apakah yang benar dimata orang? Atau yang benar berdasarkan versi kita? Atau bisa diartikan melakuakn sesuatu yang sudah semestinya. Tapi kalo “Doing the Things Right” apalagi ya? Bisa dibilang untuk melakukan segala sesuatu dengan baik, supaya hasilnya baik dan meminimalisir resiko yang ada. Walaupun itu diluar dari job desc kita. Dengan begitu kita bisa disiplin dan berhati – hati dalam melakukan segala sesuatu.
Beberapa waktu yang lalu saya nemu cerita masih dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Ada dicerita “Bocah di Pasar Swalayan” di halaman 22.
Ada suatu kejadian dimana sang bocah menjatuhkan susu cair dan membuat sekitarnya berantakan oleh susu cair yang ditumpahkannya. Dengan kesal sang ibu berkata “Anak Bodoh!!!”
Di lain waktu dan dilain tempat swalayan. Ada seorang bocah yang memecahkan dan kondisinya sama, disekitarnya jadi berantakan dan lengket oleh cairan madu. Dan si Ibu dari anak tersebut berkata “Itu perbuatan bodoh nak!!”
Dari cerita diatas bisa kita ambil sebuah pelajaran berharga.  Kita bisa lihat kejadian yang dialami anak pertama, bahwa dia telah dicap sebagai anak yang bodoh. Sedangkan anak yang kedua perbuatannya yang dibilang bodoh. Apakah teman semua sudah bisa menangkap maksud dari kejadian diatas?
Jadi gini, disaat kita menjatuhkan hukuman kepada seseorang dengan menunjuk langsung kepada orang tersebut, maka kita akan mendidik seseorang menjadi apa yang kita tuduhkan kepadanya, dan orang tersebut akan terus merasa bersalah dan pola pikirnya kana terlatih untuk menjadi “bodoh” sehingga orang tersebut bisa menjadi kurang percaya diri dan lebih parahnya akan menjadi orang yang kurang berprestasi
Sedangkan untuk situasi yang kedua. Yang kita hukum adalah tindakan sesorang, bukan orang tetapi prosesnya. Sehingga orang yang kita hukum prosesnya, maka dia akan mempelajari sesuatu hal yang positif, yang itu beberapa proses yang salah untuk menemukan sebuah proses yang baik.. baik.. dan lebih baik lagi. Sehingga orang tersebut akan tumbuh dan semakin tumbuh berkembang. Baik pikiran ataupun mentalnya.

kutipan dialog dari buku buku “ Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” pengarang Ajahn Brahm. Hal 5: Cerita “Dua Bata Jelek”


Turis      : “Itu tembok yang indah”
Ajahm   : “Pak, apakah penglihatan anda terganggu? Tidakkah anda melihat 2 batu bata jelak (tersusun tidak rapih) yang merusak keseluruhan tembok itu?”
Turis      : “Ya, saya bisa melihat 2 batu bata itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus (tersusun rapih)

Dari kutipan cerita diatas, ada sebuah nilai kebaikan yang tersirat. Janganlah kita berputus asa dan terpuruk atas kesalahan yang kita perbuat. Kita seharusnya melihat dan menggali lagi serta mengevaluasi diri, dimana kesalahan yang telah kita perbuat. Mungkin akan mengantarkan kita menuju suatu sukses yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh kita. Tetapi dengan catatan, kita jangan pernah mengulanginya lagi. Lihatlah keseluruhan dari rangkaian suatu proses, jangan pisahkan antara keberhasilan dan kegagalan. Tapi lihatlah kegagal mungkin bisa menjadi suatu proses yang tidak bsia dipisahka dalam mencapai keberhasilan.

Senin, 05 Maret 2012

kutipan buku “ Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” pengarang Ajahn Brahm. Hal xi Baris ke-25


“Dalam api yang berkobar, ngengat tidak tahu kalau dirinya akan mati. Ikan kecil menggigit mata pancing, tanpa tahu adanya bahaya. Namun, sekalipun mengetahui dengan baik, bahaya dari segala kesenangan duniawi yang buruk ini, kita masih juga melekat erat padanya. Oh, betapa bodohnya kita!!”
Kadang kita terlena akan kesenangan jangka pendek, tetapi kita tidak sadar akan bahaya yang mengancam dibalik semua itu. Hal itu akan menjadi sebuah bom waktu yang nantinya akan “membunuh” kita.
Terkadang suatu kejadian ataupun momen yang bahagia, kita anggap sebagai rejeki, berkah, dll. Tetapi mungkinkah kita berfikir bahwa itu semua merupakan cobaan buat kita. Cobaan yang seperti itu yang mungkin sangat berat. Hal itu terjadi jika kita tidak dapat me-manage-nya sehingga kita terlena dan lupa untuk bersyukur dan akhirnya terjerumus dalam sebuah cobaan yang berat.
Untuk meminimalisrnya, setiap kejadian yang baik ataupun yang buruk haruslah kita isi dengan bersyukur dan istigfar. Karena dibalik kebahagiaan bisa menjadi cobaan dan dibalik kesulitan bisa menjadi rahmat, rizki, dll. Yang pasti apabila kita bisa melaluinya dengan baik, kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih kuta.

Senin, 23 Januari 2012

Victim Vs Player


Sebelumnya Selamat Tahun Baru Masehi 2012 & Tahun Baru Imlek, semoga ditahun baru ini kita bisa jauh lebih baik dari tahun kemarin. Tapi bagaimana kita bisa tau kalo tahun yang baru ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya? Biasanya beberapa orang mengukur tahun yang akan dilalui apakah bisa lebih baik dari tahun sebelumnya adalah dengan mengukur sejauh mana atau samapai sejauh mana kita telah mensukseskan program – program ditahun sebelumnya, ataupun apa saja yang kebaikan yang telah kita peroleh dari tahun sebelumnya? Dan apabila ditahun sebulumnya masih ada beberapa ataupun banyak pencapaian yang tertunda, itu bukan berarti kita tidak sukses pada tahun sebelumnya. Menurut gw pencapaian terbaik adalah sebaerapa besar kita berkontribusi untuk diri kita dan sekitar kita yang membuat keadaan menjadi lebih baik atau kurang lebih menjadi sesuatu lebih mudah.
Untuk dapat berkontribusi positive bagi diri kita sendiri ataupun sekitar kita, terlebih dahulu kita harus menjadi player dan sebisa mungkin untuk menjadi victim. Kok player? Kok victim? Emang apa bedanya? Kalo bingung coba kita liat ilustrasi kejadian berikut (CMIIW)
Situasi 1
Hari sudah mulai pagi, suasana subuh sudah mulai terasa. Seperti biasa Tono (maaf kalo ada pembaca yang bernama Tono) melakukan aktifitas pagi, setelah bangun, dia mandi lalu sholat subuh, merapihkan tempat tidurnya, setelah semua selesai dia berangkat ke sekolah. Tetapi karena semalam hujan, jadi jalanan menjadi agak padat sehingga Tono terlambat masuk sekolah. Kepada guru piket Tono akan menjawab apa?
Jawaban 1
Tono berkata “ maaf Pak, saya terlambat. Seharusnya saya berangkat lebih pagi supaya terhindar dari macet”
Jawaban 2
Tono berkata “Maaf Pak, saya terlambat. Biasanya saya berangkat jam 5.30 tidak terlambat pak, ini gara – gara semalam hujan, jadi jalanan macet Pak”
Dari jawaban diatas, manakah yang Tono pilih? Kalo Tono pilih jawaban nomor 2, bearti Tono masih menjadi victim. Kenapa begitu? Karena lo nyalahin faktor “X” (hujan dan macet) dimana Tono gak bisa mengantisipasi dan gak mau terima kesalahannya sendiri. Tetapi pada jawaban pertama Tono menyesali dan menyadari kesalahannya. Dia menyesal kerana seharusnya dia bisa mengantisipasi keadaan pagi itu setelah hujan tadi malam.
Dalam perjalanan pulang dan sedang mengendarai motor disiang hari, tiba – tiba hujan turun dengan derasnya? Buat victim pasti menjawab “yaelah ujan lagi.. ujan lagi.. basah dah..” si Player akan menjawab “Alhamdulillah ujan, jadi seger deh, tapi pake mantel dulu ah biar gak kuyup
Masih dalam perjalanan pulang dan masih sedang mengendarai motor , tiba – tiba motor didepan kita  berzig-zag karena menghindari lobang. Karena tidak menjaga jarak, maka beberapa kali masuk kedalam lobang yang cukup dalam pula. Buat victim pasti menjawab” Sialan tuh orang, gara – gara dia zig zag gw jadi kaga bisa liat lobang, kena terus dah.. “ tapi si Player akan menjawa “Astagfirullah, gara – gara gw gak jaga jarak, jadi gw gak bisa menghindari lobang – lobang tadi. OK gw harus lebih hati – hati dan jaga jarak supaya tidak kena lobang lagi”
Dari kisah – kisah diatas, sudah tau dimana perbedaannya? Mungkin gw akan bilang silahkan menafsirkan sendiri. Tapi menurut gw intinya adalah dalam mensikapi sesuatu hal ataupun sesuatu kondisi, si victim akan selalu berpikir negative sehingga dia selalu menuduh semua kesalahan karena keadaan yang tidak sesuai dengan aturannya dia. Tetapi si Player akan berpikir positif dan menginstopeksi diri supaya keadaan tidak menjadi lebih buruk dan juga menjadikan sebuah pelajaran supaya segala hal buruk tidak terulang kembali CMIIW

Senin, 09 Januari 2012

Do The Best For Everythink, The Next Achieve Is Waiting for You


Pagi ini dapat pengalaman baru dari Pak Bayu. Beliau bercerita bahwa dalam melakukan sesuatu kita harus semaksimal mungkin, meskipun pada awalnya kita bisa merasa canggung. Pak Bayu mencontohkan ketika beliau diminta untuk bernyanyi dan menghibur audiance, dimana yang hadir saat itu merupakan jajaran direksi. Pak Bayu bak Divo terkenal yang sedang melakukan konser tunggalnya. Beliau dengan antusia mengajak para audiance untuk larut dalam suasana. Beliau juga mengajak bernyanyi para direksi, dan saya yakin pada saat itu suasana menjadi cair dan sangat santai. Terbebas dari kepenatan dalam siklus kerja.
Contoh lain adalah Mr. Tukul Arwana. Siapa yang tak kenal beliau. Seorang komedian yang kini sedang berada dipuncak popularitasnya. Mungkin sekarang kita bisa menerka argo untuk Tukul tampil per episode berapa? Saya rasa lebih dari 10 Juta per episode. Kenapa beliau bisa seperti itu, padahal kita semua tau bahwa beliau adalah wong ndeso, wajahnya wong katro, jauh dari keren dan guanteng tetapi bisa sukses. Sukses itu tidak serta merta harus ganteng dan cantik, tetapi harus bisa melakukan sesuatu semaksimal mungkin. Pernah terlintas bahwa Mr. Tukul berceloteh “My Next Customer Is Wathcing Me” yah walaupun struktur gramernya kurang tepat. Tapi maksudnya adalah, pekerjaan beliau selanjutnya tergantung dari penampilannya / performanya saat ini. Sederhana tapi benar – benar penuh makna.
Pada dasarnya kita semua sama, yang membedakan kita adalah keaktifan dan keseriusan kita dalam mengerjakan sesuatu secara maksimal. Tetapi dengan seefektif dan seefesien mungkin. Ketika kita sedang mendapat load pekerjaan yang banyak dan bisa membuat kita frustasi, kita bisa membagi pekerjaan (berdasarkan tingkat urgentsi) itu menjadi 4 bagian. Yaitu :
  1. Penting dan Mendesak
  2. Kurang Penting tetapi Mendesak
  3. Penting tetapi Kurang Mendesak
  4. Kurang Penting dan Kurang Mendesak
Lakukanlah pekerjaan sesuai dengan urutan yang telah saya jabarkan diatas dan itu tidak boleh ditukar satu sama lain. Ketika kita lebih mementingkan pekerjaan pada poin ke 4, maka waktu kita terbuang dengan percuma dan tidak akan mengangkat image performa kita pada atasann kita. Tetapi habiskan dahulu point ke 1, diikuti point ke 2 begitu seterusnya. CMIIW